Breaking News

Guru dan Murid Bersahabat ! Mengapa Tidak ?

Guru dan murid biasanya sering merasa dipisahkan oleh sesuatu yang membuat mereka tidak bisa bersahabat. Padahal, jika guru dan murid bersahabat, tidak ada salahnya. Justru dengan bersahabat, guru bisa lebih disukai murid. Sebaliknya, murid juga akan lebih mudah menerima masukan dan pelajaran dari gurunya tersebut. Persahabatan guru dan murid memang harus tetap dibatasi dengan norma-norma dan batasan-batasan moral. Memperlakukan guru sebagai sahabat, mungkin akan berbeda dengan bagaimana memperlakukan teman sebaya sebagai sahabat. Bagaimana Guru dan Murid Bisa Bersahabat? Hal pertama yang harus dihilangkan dari persahabatan adalah rasa canggung. Seringkali, murid akan merasa canggung dan malu untuk berinteraksi dengan gurunya. Padahal, guru adalah orang tua peserta didik, selama ia berada di sekolah. Bersahabat dengan murid bukan berarti selalu main bersama dan bersahabat dengan cara anak-anak. Bersahabat dengan peserta didik mempunyai tujuan untuk membantunya dalam proses belajar. Jika seorang siswa tidak canggung dengan gurunya sendiri, maka ia akan lebih mudah untuk menyerap pelajaran dari guru tersebut. Berusahalah untuk bisa dicintai oleh murid-murid. Dengan demikian, mereka akan merasa bersahabat dengan kita dan lebih mudah belajar. Inilah beberapa tips agar dicintai oleh murid :
  • Ikhlas Dalam Mengajar Mengajar merupakan sebuah kegiatan yang begitu mulia, karena menyebarkan ilmu kepada dunia. Luruskan niat utama dalam mengajar, yakni ikhlas karena Tuhan. Dengan demikian, kita tidak akan terbebani dengan kegiatan mengajar yang melelahkan. Murid-murid akan mampu melihat bahwa kita begitu tulus, sebaliknya mereka juga akan tulus belajar.
  • Gunakan Panggilan Lembut Kita sering melihat guru yang memaggil anak didiknya dengan nama biasa saja. Hal itu memang tidak jadi masalah, namun akan lebih mengesankan jika dipanggil dengan kata-kata yang lebih lembut. Misalnya, kita bisa menggunakan kata-kata “anakku”, “nak” dsb.
  • Bercanda Dengan Mereka Bercanda saat mengajar bukanlah sesuatu yang buruk. Hal itu justru bisa menambah keakraban guru dengan murid-muridnya. Batasi becandaan-becandaan tersebut, supaya guru dapat tetap mempunyai wibawa di depan murid-muridnya. Pastikan bahan becanda bukan hal-hal bodoh, bohong dan tidak bermanfaat.
  • Bijaksana Dengan Mereka Pernah mendengar istilah guru killer? Guru seperti itu dipandang tidak bijaksana. Apalagi, jika siswa melakukan kesalahan, guru seperti ini akan langsung menghukumnya. Padahal, tidak semua yang dilakukan murid adalah sengaja. Dengarkan penjelasan mereka dan mencoba untuk mengerti kondisi psikis dari murid-murid itu.
Guru Jadi Tempat Berkeluh Kesah Sebagian besar guru, mungkin akan berpikir, bahwa tugas guru adalah hanya mengajar. Padahal, guru dan murid bisa mempunyai hubungan yang lebih dekat dari pada itu. Misalnya, guru bisa menjadi tempat untuk berkeluh kesah, curhat dan bercerita. Bahkan, jika sudah nyaman, mereka akan siap untuk menceritakan hal-hal yang mereka anggap memalukan. Sebagai guru, jika ada siswa yang sedang bercerita dan curhat, bersikaplah bijaksana. Berikan nasihat-nasihat yang membangun dan jangan pernah memojokan mereka. Berikan dukungan untuk sesuatu yang memang benar, walaupun cukup sulit. Dahulu, jarak antara guru dan siswa sangat kentara. Seolah-olah guru adalah orang yang tinggi derajatnya, sedangkan siswa rendah derajatnya. Saat ini, keadaan demikian tidak dapat dipertahankan. Siswa sekarang menyenangi guru yang familiar dan bisa menjalin persahabatan dengan mereka. Secara psikologis, persahabatan dapat membuka hubungan yang lebih akrab sehingga dapat memahami pribadi masing-masing. Siswa tidak suka guru yang menjaga jarak. Mereka menyebut guru seperti itu sebagai guru jaim (jaga image). Guru menyenangkan adalah guru yang mampu menjalin keakraban dengan muridnya. Akan tetapi, keakraban di antara keduanya tetap ada batasnya. Persahabatan yang dijalin dengan akrab antara guru dan siswa dilakukan sebatas untuk mempermudah proses memahami pribadi siswa sehingga dapat bermanfaat untuk mendidik mereka. Keakraban tanpa batas antara siswa dan guru dapat menjadi penyebab kurang efketifnya pembelajaran. Dalam praktik kehidupan sehari-hari, siswa senang bergaul dengan guru yang mau akrab dengan mereka. Mereka dapat mencurahkan isi hati, termasuk kesulitan-kesulitan dalam belajar. Apabila guru dapat menggali isi hati dan mengetahui kesulitan belajar mereka, ia dengan mudah dapat membimbing mereka. Ada sementara guru yang berpandangan bahwa keakraban guru dan siswa dapat menurunkan wibawa guru. Sebetulnya tidaklah demikian. Wibawa guru tidak akan turun akibat hubungan yang akrab antara guru dan siswa. Wibawa guru turun apabila guru tidak mampu menunjukkan teladan atau penerapan nilai positif di hadapan muridnya. Manfaat yang dapat kita peroleh dari sikap akrab guru dengan para siswa, di antaranya:
  1. Siswa tidak merasakan ketegangan saat berhadapan dengan gurunya.
  2. Komunikasi dan hubungan antara siswa dan guru menjadi karab
  3. Siswa dapat lebih terbuka dalam menyampaikan isi hati dan persoalan-persoalan belaar lainnya
  4. Guru dapat menggali banyak sikap dan pikiran muridnya.
  5. Siswa merasa diakui dan diayomi oleh gurunya.
Sumber : http://gurusmp.com dan guruhebat.blogspot.co.id